Selasa, 11 Agustus 2020

Bukan penantang

Aku bukanlah seorang berjiwa penantang
Namun ku tak pula berhati pengecut
.
Dengan si penantang, ku tak tau siapa
Dengan sang pengecut ku tak pernah bertegur sapa
.
hanyalah hamba
Yang Ilmu dan harta nya masih papa
Namun ucapku tak bisa berpuasa
Tatkala hati meronta
Berjiwa pengusaha berbaik pada setiap sangka
Berlari untuk kebaikan semata pada semua
Pemetik hikmah dari segala
.
Sakit dan Lelah?
Tentu saja
Bila bukan karenaNYA, mungkin ku berputus asa
Tapi untuk apa, siapa, ini semua?
Bila bukan dipersembahkan untuk NYA?
Karena hidupku, matiku hanya milikNYA

Rabu, 22 Juli 2020

TEMUKAN JODOHMU DISINI


Dengan menyebut Nama NYA yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.  Semoga KasihNYA dan SayangNYA senantiasa membersamai saya, keluarga dan untuk kita semua.
Aahhh... beribu syukur tak henti, saya utarakan kepada Tuhan saya Allah Subhanahu WaTa'ala.
banyak sayangNya tercurah kepada saya, hingga saya malu dibuatnya.  Malu, karena DIA selalu baik, tapi saya masih belum banyak baik dan selalu sibuk usaha memperbaiki diri.

Sudah lama ingin menulis kisah saya ini, namun banyak hal yang membuat tulisan ini menjadi tertunda.  Kali ini Allah memberikan kesempatan untuk membuat yang tertunda menjadi nyata.  Beberapa orang sudah mendengarkan saya bercerita kisah ini.  Beberapa teman sekolah, teman kerja, tetangga, bahkan teman online.  Respon mereka selalu menanyakan kelanjutannya tatkala saya menceritakan sepenggalnya.  Entahlah, apa yang membuatnya ingin tahu kelanjutannya.  Apakah dari kisahnya, atau ketertarikan gaya bercerita saya 😁.

Alhamdulillah, Happy Anniversary to my Half.
Tidak mudah menjalani hingga 11 tahun pernikahan.  Tapi insyaallah dengan bekal takwa kepada Allah, semoga langkah kita menjadi sakinnah mawaddah dan warrohmah menjadi lebih mudah.  Apalah kami ini, sejak bertambah tahun usia pernikahan kami, tak pernah kami merayakan bahkan mengingat di tanggal berapa kami menikah.  Berawal dari banyak postingan hari ulang tahun Pak Jokowi (Bapak Presiden saat ini), mengingatkan hari ulang tahun pernikahan kami.  Ternyata jatuh di tanggal yang sama.  21 Juni.  Saat itu, momen 11 tahun kami yang jatuh pada hari Minggu di tahun 2020 mengiringi kami untuk mengingat momen lampau, peristiwa demi peristiwa yang sesaat memunculkan pertanyaan sekaligus tawa geli kami.  Pertanyaan yang paling sering muncul adalah, "loh kok bisa ya?". 
Yang terkadang kami jawab sendiri, dengan jawaban "itulah takdir".  

Adalah kisah, dimana kisah yang menurut sebagian teman-teman saya tidak buruk dan relatif unik.  Hingga seorang teman memberikan buah pikirnya untuk menuangkan dalam tulisan.  Hai teman, terimakasih teman.
Entah, bagi saya harus memulai dari mana kisah ini, dan entah harus saya beri judul apa kisah ini.  Tapi yang pasti, fokus saya pada kisah ini adalah tentang awal jumpa kami hingga takdir bahwa kami berjodoh.  Niat saya membuat tulisan ini tidaklah banyak, selain berbagi juga sekaligus mengenang kisah kami, melatih daya ingat, semoga memberikan inspirasi dan manfaat baik.

Saya penganut paham, bahwa jodoh adalah misteri.  Semakin kuat dan bertambah iman saya ini.  Karena dalam ajaran agama yang saya anut, jodoh adalah salah satu takdir selain kelahiran dan kematian.  Berawal dari tidak mengetahui siapa satu sama lain, hingga satu  atap dengan status suami isteri selama 11 tahun ini.

17 tahun lalu, Saya diberi kesempatan untuk bisa menggali ilmu di perguruan tinggi negeri yang menjadi sekolah tujuan banyak orang saat itu.  Ya, Universitas Indonesia.  Betapa baiknya Tuhan saya, doa saya untuk menjadi civitas akademika di dalamnya di tahun itu dikabulkannya.  Tidak tanggung-tanggung, DIA kabulkan juga doa saya, agar saya bisa menimba di sumur ilmu yang saya gemari dan menjadi pilihan saya.  Ya, ilmu Biologi.  Bukan alih alih pelarian karena tidak diterima di ilmu kedokteran atau teknik atau sejenisnya, tetapi memang dambaan saya untuk  dapat lebih banyak ilmu Biologi di dalam nya.  Mengejar harapan dan cita-cita pun serasa dibukakan peluang oleh Sang Maha Baik.  Niat tulus menjadi seorang pengajar ilmu Biologi semakin termotivasi.  Bermodal 2 tokoh guru Biologi ketika di SMA yang menjadi role model saya, merupakan semangat juang saya untuk meraih kesempatan belajar Biologi di perguruan tinggi negeri.  Baiklah, sampai di titik ini saya paham benar bahwa tokoh yang menjadi role model itu bisa menjadi acuan motivasi juga loh buat kita 😄 (baru sadar).

Tidak ada nilai  akademi yang tidak baik selama 3 tahun di ladang ilmu tersebut.  Niat lulus di tahun ke empat pun memuncak.  Tetapi apa daya, lagi-lagi takdir lah yang menentukan.  Entah mengapa cukup sulit menemukan rute untuk lulus, hingga harus saya terima takdir dimana saya dapat lulus ditahun kelima.  Lagi-lagi banyak cerita selama menikmati pendidikan di sana.  Termasuk cerita jodoh saya yang satu ini.  

Ditahun ketiga saya memutuskan untuk tinggal di tempat kost.  2005 adalah tahun ketiga bagi saya.  Banyak alasan yang memutuskan saya untuk menjadi anak kost.  Atas referensi dari beberapa teman kampus, maka saya memutuskan untuk kost di area di mana saya bisa menempuhnya dengan bis kampus (bikun/bis kuning namanya saat itu) bahkan bisa juga dengan berjalan kaki menuju kampus.  Ya, Travelya, nama rumah kost nya.  Satu alasan kuat yang membuat saya memilih rumah kost tersebut adalah karena memperoleh air minum gratis, walaupun pada akhirnya saya mengetahui bahwa air minum itu berasal dari air keran yang difilter dengan alat tertentu hingga menjadi air yang layak diminum.  (Merasa tertipu akutuu. Hahahha. tapi tidak masalah sih selama perut masih bersahabat).   

Kalau dari tampilan bangunan, Travelya merupakan rumah kost yang dibilang bagus dan bangunannya tampak modern dijamannya.  Masih dibilang bagus karena termasuk bangunan baru.  Kalau dari harga, relatif murah, karena masih baru jadi sepertinya mengandung unsur promosi.  Dari luar tampak gerbang besar, halaman besar yang bisa di pakai bermain bola basket, karena ada ring basket dihalaman itu.  Tampak 2 kamar besar menghadap ke halaman.  disebelah kanan gerbang terdapat aula cukup besar. Di antara 2 kamar besar yang menghadap ke halaman, ada satu pintu masuk ke dalam.  Masuk dari pintu tersebut, tampak beberapa meja dan kursi makan.  Ya, itu kantin untuk anak-anak kost Travelya.  Hal lain yang menyenangkan buat saya adalah meja makan kantin yang menghadap ke halaman terbuka berlantai keramik dengan beberapa pepohonan kecil di bagian tepinya.  Saya anggap itu adalah bonus untuk saya, selain air minum gratis tadi.   

Dari pintu masuk tadi, selain meja dan kursi makan, tampak etalase di sebelah kanan.  Etalase itu digunakan oleh Ibu penjaga kantin untuk menampilkan kreasi masakan rumahan yang sudah dibuatnya untuk dijual ke anak-anak kost.  Etalase tersebut bersebelahan dengan dapur sekaligus pintu masuk menuju kamar-kamar kost putera.  Sedangkan di sisi kiri dari pintu masuk, terdapat pintu menuju kamar-kamar kost puteri.  Masing-masing area putera maupun puteri terdapat 24 kamar kost, di mana penampakan setiap area baik putera maupun puteri, terdapat 12 kamar di lantai bawah dan 12 kamar di lantai atas.  Jadi total seluruh kamar kost adalah 48 kamar, ditambah 3 kamar besar yang berbatasan dengan halaman paling depan dekat dengan Gerbang.  

Ada 3 pilihan kamar yang bisa saya tempati saat itu.  P22, P23 dan P24 (adalah nomor kamarnya). Semua kamar tersebut terletak di lantai 2.   Keputusan saya dalam memilih ruang singgah akhirnya jatuh pada P22 yang memiliki jendela menghadap ke halaman kantin.  Halaman kantin itu terkadang menjadi lahan parkir motor anak-anak kost untuk keamanan yang lebih.  Kunci kamar kost di gantungi papan mika berwarna pink bertuliskan P22.  Sepertinya P itu artinya perempuan.  karena setelah beberapa waktu di rumah kost tersebut, saya akhirnya tahu bahwa untuk kamar kost laki-laki bertuliskan L.  Kemungkinan L berarti laki-laki dan papan mika gantungan kunci kamar laki-laki berwarna biru muda.  Demikian juga dengan tampilan cat dinding kamar kost puteri berwarna pink sedangkan dinding kamar kost putera berwarna biru muda.  Secara keseluruhan area kamar kost puteri dan area kamar kost putera terpisah oleh halaman dan kantin.  Meski demikian, penghuni puteri dilarang memasuki area kost putera dan sebaliknya.

Setelah satu tahun di Travelya, sangat terasa semua penghuni kost terutama penghuni puteri seperti keluarga sendiri.  Dua orang  penghuni kost puteri adalah teman kampus saya.  Ya, kita dijurusan studi yang sama, Biologi.  Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA).  Menurut saya, hal baik dari rumah kost ini adalah adanya beberapa kegiatan yang mempertemukan semua penghuni kost baik putera maupun puteri.  Seperti solat berjamaah di aula dan kajian kerohanian yang di buat oleh pemilik kost.  Rasa akrab makin terasa setelah lebih dari satu tahun menghuni, hingga saya tahu bahwa rumah kost ini memiliki cogan (bukan cowo ganteng ya, ahahhaha).  Cogan alias moto, alias semboyan dari rumah kost ini adalah one roof one septictank.
Cukup lucu bagi saya untuk semboyan itu,  artinya satu atap satu pembuangan tinja.  Entah siapa yang membuat dan entah siapa yang mengada-ada.

Ada suatu momen dimana saya ingin tau siapa saja penghuni kamar kost putera.  Karena dengan semboyan one roof one septictank tadi, tidak sah rasanya kalau saya tidak kenal semua penghuni kost.  Sambil menghabiskan waktu setelah makan malam di kantin, saya ditemani oleh salah satu penghuni kost putera yang sudah saya kenal lebih dulu, membantu memperkenalkan ke saya, bahwa kamar L sekian ditempati oleh si A, si B, si C, dan begitu seterusnya, sambil menunjukkan wajah-wajahnya sekaligus membantu memperkenalkannya ke saya.  Orang-orang yang ditunjukkan wajahnya dan diperkenalkan ke saya adalah penghuni kost putera yang secara kebetulan lalu lalang dari dan menuju kamar kost.  

Tidak ingat urutan setiap part nya dalam kisah saya kali ini, tetapi entah kenapa yang ini terasa berkesan dan spesial.  Ya, saat teman saya memperkenalkan orang yang kini tepat 11 tahun seatap  dengan saya.    Enggan rasanya saya meyebutkan nama teman saya ini, sebetulnya agar orang terkait ketika membaca cerita ini bisa merasakan dan berkata dalam hati nya, "hmmm ini kayaknya gw deh".  Begitulah kiranya. Hahahha.
Maaf, bila terlalu banyak kata "Hahahha" atau emoticon tertawa, karena menulis ini tidak hanya cukup mengingat masa lampau, tapi penuh tawa geli di diri sendiri.  Orang yang menjadi suami saya kini adalah Haikal, si baik hati, yang pemalu, lemah lembut dan jarang berkasar.  Yah..walaupun terkadang menyebalkan, tapi saya paham bahwa hidup tidaklah semulus jalan tol beraspal dan yap, no body is perfect.  Karena yang sempurna hanya Tuhan saya semata.  Jadi bila kita sudah dekat dengan seseorang lantas satu sama lain tidak pernah merasa menyebalkan, menurut saya itu adalah sesuatu yang aneh.  

Ceu, Ceuceu, Mba Ceuceu, Ceuceu Maruceu, Ceuceu maruceu oi oi, dan Ceuzky Travelsky.  Itu semua adalah panggilan beberapa penghuni kost kepada Saya.  Entahlah mengapa mereka memanggil saya dengan sebutan itu.  Kalau saya menerka sendiri, adalah karena saya terbiasa dengan logat dan bahasa Sunda.  Kenapa tidak saya berbicara dengan bahasa Sunda, kalau saya bisa dan ada beberapa orang di rumah kost tersebut yang juga bisa berbahasa Sunda, seperti Ibu yang memasak dan menjaga kantin, 2 Akang yang membersihkan area kamar kost, bahkan pemilik utama rumah kost tersebut ternyata bersuku Sunda.  Asli asal Tasikmalaya.  Tasikmalaya adalah tempat kelahiran dan dibesarkannya Mamah saya.  Saya bisa berbahasa Sunda karena terbiasa.  Sejak saya kecil, bahasa Sunda banyak mengelilingi keluarga dan tetangga saat berkomunikasi.  Tidak berniat racism, hanya turut melestarikan budaya, dan menanam rasa bahwa betapa asiknya berbahasa daerah.  

Kamis, 10 Mei 2018

Daun Robek si Monstera deliciosa jadi Idola


Para hobiis tanaman pasti sudah tidak asing sama si jenis tanaman hias yang satu ini.  Selain robekan, bolongan daunnya yang bikin unik, di tambah pemeliharaan yang mudah bikin si Momon (Panggil saja dia Momon) makin banyak di gemari.  Bisa Indoor juga Outdoor, tuh kurang fleksibel apalagi coba si Momon ini? Ya kan?.  Nah Faktor ekonomi jua lah yang menentukan, di mana banyak penggemarnya disitu banyak pula uang yang dibutuhkan untuk mengadopsi si Momon.  Apalagi kalau sudah besar ya.....pasti bisa sampai ratusan ribu rupiah.  Gak heran juga kalau sampai hobiis saking sayang nya, daun Momon selalu di belai dan dibersihkan, bahkan  biasanya sampai dibelai dengan zat yang bikin daun jadi lebih berkilau.  Whoawwwhh.. segitunya.

Wahai para pecinta Momon, ketika belai-belai Momon, pernah kepikiran gak si? atau bertanya-tanya dalam hati sendiri (bukan hati orang lain yaa,,,), kenapa daun Momon bisa robek-robek atau bolong seperti itu? Mirip dengan kerabatnya si Monstera obliqua yang juga bolong. Hahahahha.  Pasti disambung dengan jawaban yang datang nya juga dari dalam hati sendiri, “yah...dari sana nya memang sudah begitu, alias Takdir”. Hahahha.  Itu Jawaban yang benar dan sangat akurat sekali. Hahhaha.

Sedikit cerita dari saya yang bersumber dari beberapa tulisan ilmiah untuk menjawab itu.  Semoga dengan bahasa yang lebih santai penjelasannya bisa diterima ya.  Daun Monstera yang bolong dan robek itu karena adanya Programmed Cell Death (PCD) yang artinya kematian sel terprogram.  Begini maksudnya, daun si Momon akan terbelah atau bolong secara otomatis karena sudah terprogram atau bisa dibilang sudah terencana.  Hal ini memang merupakan regulasi kehidupan si Momon (Nah ini yang dibilang takdir) Hahaha.  Sel – Sel daun Momon yang semula utuh secara otomatis akan mati membentuk belahan/celah dan lubang.  Lalu siapa yang mengatur atau merencanakan itu semua?, pasti mau bilang lagi “Tuhan Yang Maha Kuasa kan?” Hahaha. Memang kalau ngebahas ini, makin bertafakur secara tidak langsung.  PCD sudah diprogram atau diatur oleh DNA di dalam sel.  Analogi nya seperti perangkat smartphone kita yang ada mode default nya gitu loh.  Jadi DNA dalam sel akan mengatur bentuk, pola celah maupun lokasi celahnya pada daun si Momon.  DNA itu ada didalam sel.  Sel itu bagian terkecil dari jaringan daun.  Kalau saya beri gambaran, daun itu adalah puzzle yang sudah tersusun, nah potongan puzzle itu adalah sel, dan DNA adalah bagian yang lebih kecil lagi dari sel.  Iyes, lagi-lagi tidak kasat mata, jadi sementara kita bayangkan saja dulu ya guys.  Gambaran lain  yang bisa saya berikan adalah seperti ini, terbentuknya celah daun si Momon itu sama halnya seperti embrio manusia, jadi sewaktu kita diperut sang mama, semula jari-jari kita ini rapat ya guys, jadi bentuk tangan nya itu kurang lebih seperti dayung, nah dengan PCD atau kematian sel terprogram ini, membuat sel-sel calon jari tangan ini mati, sehingga membentuk sela jari.  Sama halnya dengan kelopak mata kita, di dalam kandungan mama, kelopak mata ini rapat.  Dengan PCD, sebagian sel kelopak mata akan mati sehingga kelopak mata kita bisa membuka.  Nah,,,kira-kira begitu gambarannya. 

Inget Mr PACMAN ?, iya betul, games nintendo yang makan bulatan kecil di sepanjang perjalanannya. Sementara kita bayangkan dulu ya bahwa yang terjadi di dalam sel daun momon yang mati itu, kejadiannya serupa dengan si pacman. Jadi di dalam sel daun Momon, ada sejumlah partikel yang sifatnya memakan (fagosit), yang lama kelamaan si sel daun akan mati, hilang dan membentuk celah.  Atau gambaran lainnya adalah seperti daun yang bercelah atau berlubang akibat  dimakan ulat.  Hanya saja kalau ulat dari luar daun, dan bentuk celah dan lubang menjadi tidak teratur.  Berbeda dengan PCD yang membentuk celah akibat dari dalam dan bentuk celah/lubang lebih teratur.  Kebayang kan guys?.  Ada yang tau gak sih, kalau terbentuknya celah atau hole si Momon ini kapan?.  Apakah saat daun masih menempel pada pelepahnya (tangkai daun induk) dan ketika keluar sebagai daun muda sudah ada celah dan lubang?,  atau daun muda yang mucul seperti daun pada tanaman umumnya, kemudian menyusul pembentukan celah/lubang?.  Kalau dari pengamatan yang saya lakukan, setiap muncul daun baru dengan warna hijaunya yang masih muda dan teksturnya yang lentur dan belum kokoh, celah/lubang sudah mulai tampak.  Kalau kesimpulan pengamatan saya sih, terbentuknya celah atau lubang terjadi saat calon daun masih menempel pada tangkai daun / pelepah daun induk.

Daun baru sudah ada celahnya
Calon daun baru yang masih menempel pada tangkai daun induk


Daun baru yang muncul, keluar
dari tangkai daun induk
PCD pada daun Momon ini lebih bertujuan kepada untuk karakteristik bentuk atau morfologi daunnya.  PCD juga merupakan indikator perkembangan suatu organ (dalam hal ini organ tanaman).  Adapun PCD sebagai indikator penuaan organ, Tetapi biasanya penuaan diiringi dengan regenerasi organ.  Misalnya karena sudah tua, sel daun menjadi mati dan gugur.  Pernah terpikir juga gak sih? Untuk apa penggguuran daun yang sudah tua? .  Yes, untuk efektivitas energi atau makanan.  Karena penuaan biasanya diirinngi dengan regenerasi (contoh: ada daun gugur, ada juga daun/pucuk baru).  Jadi agar penyebaran energi dan makanan menjadi lebih merata ke seluruh organ tumbuhan.  Ahahahha, kayak kita ya, regenerasi itu perlu.  Ada juga faktor luar yang memicu terjadi nya kematian sel, misalnya karena bakteri atau jamur patogen (merugikan dan mematikan).  Bila tanaman terserang patogen, maka biasanya tanaman akan mempertahankan hidupnya dengan mematikan sel pada organ yang terserang, agar penyebaran patogen menjadi tidak meluas ke bagian organ lainnya.  Semoga tulisan ini bisa membantu kalian para hobiis yang memiliki pertanyaan sama seperti saya ya.

Cheers,

PUSTAKA
Paliyath, G. dkk. 2008. Postharvest Biology and Technology of Fruits, Vegetables, and Flowers. USA: A John Wiley & Sons, Ltd., Publication.
Rogers, H. J. 2005. Cell death and Organ Development in Plants. 71: 225 - 261


Tumbuhan Sebagai Solusi Polusi Udara


Menulis dengan aroma ilmiah itu gak semudah menulis blog curhatan ya, butuh ilmu dengan minimal membaca seperti jurnal ilmiah atau referensi lain yang berhubungan.  Walaupun sudah punya sedikit ilmu dasar, tetapi tetap saja yang namanya ilmiah itu ya perlu kebenaran atau fakta ilmiah, jadi gak sekedar seperti beropini.  Well, sudah baca jurnal sana sini.  Inginnya seperti tesis atau jurnal yang melampirkan atau mencatut setiap referensi yang digunakan, tapi rasanya agak aneh kalau dituliskan seperti itu di sini.  Sebetulnya tidak juga sih, hahaha (mulai plin plan), oke lah akan tetap saya usahakan tuliskan sumbernya di akhir tulisan ini. 

Bertolak dari satu pertanyaan, Bagaimana sih kerja tumbuhan mengatasi polusi udara?  Pertanyaan yang mudah, tetapi tidak mudah untuk menjawabnya.  Tidak mudah, karena butuh cara agar jawaban bisa dimengerti.   Ada beberapa jenis tumbuhan untuk membantu mengatasi polusi, atau mengurangi bahan pencemar (polutan).  Tidak semua tumbuhan memang, dan tidak semua polutan yang bisa di kendalikan oleh tumbuhan.  Misalnya satu tumbuhan hanya bisa mengendalikan satu polutan saja, atau satu tumbuhan hanya bisa mengendalikan beberapa jenis polutan.  Polutan yang dimaksud di sini adalah zat atau bahan yang sifatnya berbahaya bagi makhluk hidup ataupun lingkungan, apalagi dalam jumlah banyak, baik yang terdapat di  udara, perairan, maupun di tanah. 

Adapun istilah ilmiah yang dikenal adalah Fitoremediasi.  Definisi dari istilah ini adalah upaya penggunaan tumbuhan untuk meghilangkan, menstabilkan, atau menghacurkan bahan pencemar (Phyto yang berasal dari bahasa Yunani yang berarti "tumbuhan" dan remediation yang berasal bahasa Latin yang berarti “menyembuhkan”).  Begitulah kira-kira istilah yang paling sering digunakan.  Sedikit informasi mengenai jenis polutan yang berbahaya itu antara lain Karbon monoksida (CO), partikel Kadmium (Cd), Timbal (Pb), formaldehid (formalin) dan masih banyak lagi.  Sebenarnya ada bahasan tersendiri mengenai polutan.  Sepengetahuan saya, polutan itu nanti dikelompokan berdasarkan bentuk yaitu gas, padat dan cair. Semua zat itu sebenarnya akan berbahaya, dengan catatan jika zat tersebut melewati ambang batas, atau berbahaya bila dalam pemanfaatan yang salah.  Dan khusus tentang polutan memiliki catatan tersendiri untuk masing-masing nilai ambang batasnya, di mana nilai nya berbeda untuk setiap jenis polutan.  (Silakan disearch sendiri ya untuk yang ini bila ingin tahu lebih lanjut).

POLUSI UDARA


Spesifik pembahasan kali ini adalah polusi udara.  Polusi udara sendiri itu bisa dibilang kalau udara sudah tercemar oleh polutan, biasanya polutan yang bentuknya gas.  Seperti yang sudah disinggung di atas, di antaranya adalah Karbon monoksida (CO) dan karbon dioksida (CO2).  Ya, keduanya dari hasil pembakaran.  Kalau secara kimiawi CO hasil dari pembakaran tidak sempurna, sedangkan CO2 hasil dari pembakaran sempurna (jadi pembakaran napas kita sempurna ya...). Nah lo apalagi ini? Hahahha. Sempurna atau tidak sebetulnya itu lebih ke susunan unsur kimiawi sih (Karena kesempurnaan hakiki hanyalah milik Tuhan Yang Maha Esa, Haha).  Tapi yang pasti keduanya merupakan gas hasil dari pembakaran, di mana bila dalam jumlah banyak dan sampai masuk ke dalam tubuh manusia (melalui pernapasan), maka dampak nya akan sangat berbahaya.  Dampaknya adalah mati lemas.  Karena pada keadaaan normal yang seharusnya dihirup adalah Oksigen (O2), tetapi apabila dalam keadaan tertentu jumlah O2 lebih sedikit dibanding CO atau CO2, maka manusia akan kekurangan O2 untuk bernapas. Gambarannya seperti itu.  Gak Cuma dua gas itu aja sih sebagai polutan di udara, masih ada lagi polutan lain seperti gas belerang (SO, SO2, SO3) gas CFC (Kloro Fluoro Karbon), gas Hidrokarbon (HC) dan gas lainnya. 

Gerakan sejuta pohon, reboisasi, pembuatan taman kota, itu adalah beberapa cara untuk mengurangi polusi udara.  Ya, minimal dapat mengurangi jumlah Karbondioksida (CO2) diudara, dan menambah Oksigen (O2) di udara, sehingga udara terasa lebih sejuk.  Lho kok bisa? Tentu, karena tumbuhan itu melakukan fotosintesis untuk keberlangsungan hidupnya.  Di mana untuk proses fotosintesisnya tumbuhan akan mengambil karbondioksida (CO2) di udara dan menghasilkan Oksigen (O2) ke udara. Jadi CO2 yang bikin sesak udara itu dimanfaatkan oleh tumbuhan dan diganti menjadi O2, karena itulah kalau halaman rindang dengan pepohonan akan terasa lebih sejuk kan?.  Fotosintesis buat apa sih? Kayak kita, tumbuhan itu perlu makan, Cuma tumbuhan itu bisa membuat makanannya sendiri, dengan fotosintesis itulah dia menghasilkan makanannya sendiri, dan itulah sebab tumbuhan disebut sebagai produsen (penghasil makanan).  Proses fotosintesis ini terjadinya di daun. Zat makanan yang dihasilkan nya itu berupa senyawa kimia (berupa karbohidrat dan senyawa lainnya).    

Bagi penggemar tanaman pasti sudah tidak asing dengan Sansevieria sp.  atau tanaman lidah mertua yang sering disuarakan dapat mengurangi polusi udara.  Dari beberapa penelitian memang tanaman lidah mertua ini dapat mengurangi polusi di udara.  Bahkan penelitian Badan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) sudah menunjukkan bahwa lidah mertua mempu menyerap lebih dari 107 unsur polutan yang berbahaya di udara. NASA juga menunjukkan bahwa lidah mertua mampu melawan Sick Building Syndrome (fenomena gangguan kesehatan yang berkaitan dengan kualitas udara dalam ruangan).   Environmental Service juga menunjukkan bahwa satu helai lidah mertua dalam satu jam mampu menyerap 0.938 mg formaldehid.  Nah ini yang penting, bagaimana si tumbuhan lidah mertua ini bisa mengurangi polusi di udara.  Pada daun lidah mertua terdapat mulut daun yang disebut sebagai stomata.  Stomata ini merupakan pori/celah tempat masuknya zat yang diperlukan dan tempat keluarnya zat yang tidak diperlukan oleh tumbuhan.  Intinya stomata adalah pori/celah tempat keluar masuknya zat.  Secara kasat mata memang tidak akan tampak, tetapi akan sangat jelas bila dilihat dengan bantuan mikroskop.  Setelah ini kalau mau coba perhatikan pori atau celah di daun boleh loh, siapa tahu ada yang tampak kasat mata, bisa jadi ketika si daunnya lagi gak pakai fondation. Hahahhaha. (pori wajah kali yesss...*kidding ya guys :p). 
Mekanisme reduksi/pengurangan polutan oleh lidah mertua adalah dengan cara penyerapan polutan tersebut dari udara.  Yaitu dengan masuk melalui celah atau pori pada daun (stomata).  Melalui stomata inilah polutan masuk bersamaan dengan pengambilan karbondioksida (CO2) untuk fotosintesis.  Berbeda dengan CO2 yang digunakan untuk fotosintesis, polutan yang ikut serta masuk melalui stomata ini, oleh lidah mertua akan direduksi secara kimiawi menjadi senyawa yang tidak lagi berbahaya.  Polutan yang masuk melalui stomata akan diubah oleh zat aktif pregnane glikosid menjadi senyawa seperti asam organik, gula, dan asam amino yang memberikan manfaat bagi tumbuhan itu sendiri maupun makhluk hidup lain.  Tidak semua tumbuhan memiliki kemampuan mereduksi polutan.  Bahkan antar species lidah mertua sekalipun, memiliki kemampuan yang berbeda dalam mereduksi polutan.  Misalnya antara Sansevieria cylindrica dengan Sansevieria trifasciata (sumber pict: wikipedia).

Sansevieria cylindrica
           
Sansevieria trifasciata
                                                                         

Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh bentuk, ukuran  dan tekstur daun.  Ukuran daun yang luas akan memiliki lebih banyak stomata, sehingga polutan juga akan lebih banyak terserap.  Daun yang tipis akan lebih mudah meyerap polutan dari pada lidah mertua dengan daun lebih tebal.  Karena polutan pada daun yang lebih tipis akan lebih mudah menembus ke bagian dalam jaringan daun.

 
Masih ada beberapa cara lain tumbuhan dalam mereduksi polutan.  Misalnya melalui organ akar tumbuhan (Rizofiltrasi), di mana akar tumbuhan akan menyerap polutan seperti logam berat atau limbah buangan dari tanah yang tercemar, polutan kemudian diakumulasi ke bagian batang dan daun, kemudian tumbuhan dengan akumulasi polutan ini dikelola secara khusus. Fitostabilisasi, yaitu tumbuhan mampu menghaslkan senyawa kimia tertentu, dimana dapat membuat polutan menjadi tidak aktif di area yang tercemar. Fitodegradasi, dengan bantuan enzim pemecah (degradasi) di dalam jaringan tumbuhan yang mampu mendegradasi polutan.  Fitovolatilisasi, Polutan yang terserap oleh tumbuhan akan dilepaskan/ diuapkan ke udara melalui daun.  Sebelum diuapkan polutan mengalami reaksi kimiawi di dalam jaringan tumbuhan, sehingga zat yang diuapkan bukanlah zat yang membayahakan lagi.

Demikian sekelumit informasi mengenai hubungan Sansivieria dengan polusi udara.  Tanaman lidah mertua cenderung tumbuh di tempat yang kering, tidak terlalu banyak air, dan dapat ditempatkan di tempat yang kurang cahaya maupun banyak cahaya.  Over watering atau air yang berlebihan justru penyebab tanaman lidah mertua menjadi mati.  Pemeliharaan dan perbanyakan yang mudah, membuat semangat para hobiis tanaman untuk memilikinya.  Semoga bermanfaat.

PUSTAKA
  • Megia, R., Ratnasari, Hadisunarno. 2015. Karakteristik Morfologi dan Anatomi, serta Kandungan Klorofil Lima Kultivar Tanaman Penyerap Polusi Udara Sansevieria trifasciata. 1(2): 34--40
  • Nur, F. 2013. Fitoremediasi Logam Berat Kadmium (Cd). 1(1): 74--83