Tumbuhan Sebagai Solusi Polusi Udara
Menulis dengan aroma ilmiah itu gak semudah menulis blog
curhatan ya, butuh ilmu dengan minimal membaca seperti jurnal ilmiah atau
referensi lain yang berhubungan.
Walaupun sudah punya sedikit ilmu dasar, tetapi tetap saja yang namanya
ilmiah itu ya perlu kebenaran atau fakta ilmiah, jadi gak sekedar seperti
beropini. Well, sudah baca jurnal sana
sini. Inginnya seperti tesis atau jurnal
yang melampirkan atau mencatut setiap referensi yang digunakan, tapi rasanya
agak aneh kalau dituliskan seperti itu di sini.
Sebetulnya tidak juga sih, hahaha (mulai plin plan), oke lah akan tetap
saya usahakan tuliskan sumbernya di akhir tulisan ini.
Bertolak dari satu pertanyaan, Bagaimana sih kerja tumbuhan
mengatasi polusi udara? Pertanyaan yang
mudah, tetapi tidak mudah untuk menjawabnya.
Tidak mudah, karena butuh cara agar jawaban bisa dimengerti. Ada beberapa
jenis tumbuhan untuk membantu mengatasi polusi, atau mengurangi bahan pencemar
(polutan). Tidak semua tumbuhan memang,
dan tidak semua polutan yang bisa di kendalikan oleh tumbuhan. Misalnya satu tumbuhan hanya bisa
mengendalikan satu polutan saja, atau satu tumbuhan hanya bisa mengendalikan
beberapa jenis polutan. Polutan yang
dimaksud di sini adalah zat atau bahan yang sifatnya berbahaya bagi makhluk
hidup ataupun lingkungan, apalagi dalam jumlah banyak, baik yang terdapat
di udara, perairan, maupun di
tanah.
Adapun istilah ilmiah yang dikenal adalah Fitoremediasi. Definisi dari istilah ini adalah upaya penggunaan
tumbuhan untuk meghilangkan, menstabilkan, atau menghacurkan bahan pencemar (Phyto
yang berasal dari bahasa Yunani yang berarti "tumbuhan" dan
remediation yang berasal bahasa Latin yang berarti “menyembuhkan”). Begitulah kira-kira istilah yang paling
sering digunakan. Sedikit informasi
mengenai jenis polutan yang berbahaya itu antara lain Karbon monoksida (CO),
partikel Kadmium (Cd), Timbal (Pb), formaldehid (formalin) dan masih banyak
lagi. Sebenarnya ada bahasan tersendiri
mengenai polutan. Sepengetahuan saya,
polutan itu nanti dikelompokan berdasarkan bentuk yaitu gas, padat dan cair.
Semua zat itu sebenarnya akan berbahaya, dengan catatan jika zat tersebut
melewati ambang batas, atau berbahaya bila dalam pemanfaatan yang salah. Dan khusus tentang polutan memiliki catatan
tersendiri untuk masing-masing nilai ambang batasnya, di mana nilai nya berbeda
untuk setiap jenis polutan. (Silakan
disearch sendiri ya untuk yang ini bila ingin tahu lebih lanjut).
POLUSI UDARA
Spesifik pembahasan kali ini adalah polusi udara. Polusi udara sendiri itu bisa dibilang kalau
udara sudah tercemar oleh polutan, biasanya polutan yang bentuknya gas. Seperti yang sudah disinggung di atas, di
antaranya adalah Karbon monoksida (CO) dan karbon dioksida (CO2). Ya, keduanya dari hasil pembakaran. Kalau secara kimiawi CO hasil dari pembakaran
tidak sempurna, sedangkan CO2 hasil dari pembakaran sempurna (jadi pembakaran
napas kita sempurna ya...). Nah lo apalagi ini? Hahahha. Sempurna atau tidak
sebetulnya itu lebih ke susunan unsur kimiawi sih (Karena kesempurnaan hakiki
hanyalah milik Tuhan Yang Maha Esa, Haha).
Tapi yang pasti keduanya merupakan gas hasil dari pembakaran, di mana
bila dalam jumlah banyak dan sampai masuk ke dalam tubuh manusia (melalui
pernapasan), maka dampak nya akan sangat berbahaya. Dampaknya adalah mati lemas. Karena pada keadaaan normal yang seharusnya
dihirup adalah Oksigen (O2), tetapi apabila dalam keadaan tertentu jumlah O2 lebih
sedikit dibanding CO atau CO2, maka manusia akan kekurangan O2 untuk bernapas.
Gambarannya seperti itu. Gak Cuma dua gas
itu aja sih sebagai polutan di udara, masih ada lagi polutan lain seperti gas
belerang (SO, SO2, SO3) gas CFC (Kloro Fluoro Karbon), gas Hidrokarbon (HC) dan
gas lainnya.
Gerakan sejuta pohon, reboisasi, pembuatan taman kota, itu
adalah beberapa cara untuk mengurangi polusi udara. Ya, minimal dapat mengurangi jumlah
Karbondioksida (CO2) diudara, dan menambah Oksigen (O2) di udara, sehingga
udara terasa lebih sejuk. Lho kok bisa?
Tentu, karena tumbuhan itu melakukan fotosintesis untuk keberlangsungan
hidupnya. Di mana untuk proses
fotosintesisnya tumbuhan akan mengambil karbondioksida (CO2) di udara dan
menghasilkan Oksigen (O2) ke udara. Jadi CO2 yang bikin sesak udara itu
dimanfaatkan oleh tumbuhan dan diganti menjadi O2, karena itulah kalau halaman
rindang dengan pepohonan akan terasa lebih sejuk kan?. Fotosintesis buat apa sih? Kayak kita,
tumbuhan itu perlu makan, Cuma tumbuhan itu bisa membuat makanannya sendiri,
dengan fotosintesis itulah dia menghasilkan makanannya sendiri, dan itulah
sebab tumbuhan disebut sebagai produsen (penghasil makanan). Proses fotosintesis ini terjadinya di daun.
Zat makanan yang dihasilkan nya itu berupa senyawa kimia (berupa karbohidrat
dan senyawa lainnya).
Bagi penggemar tanaman pasti sudah tidak asing dengan Sansevieria sp. atau tanaman lidah mertua yang sering
disuarakan dapat mengurangi polusi udara.
Dari beberapa penelitian memang tanaman lidah mertua ini dapat
mengurangi polusi di udara. Bahkan
penelitian Badan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) sudah menunjukkan
bahwa lidah mertua mempu menyerap lebih dari 107 unsur polutan yang berbahaya di
udara. NASA juga menunjukkan bahwa lidah mertua mampu melawan Sick Building Syndrome (fenomena
gangguan kesehatan yang berkaitan dengan kualitas udara dalam ruangan). Environmental Service juga menunjukkan bahwa
satu helai lidah mertua dalam satu jam mampu menyerap 0.938 mg
formaldehid. Nah ini yang penting,
bagaimana si tumbuhan lidah mertua ini bisa mengurangi polusi di udara. Pada daun lidah mertua terdapat mulut daun
yang disebut sebagai stomata. Stomata ini merupakan pori/celah tempat
masuknya zat yang diperlukan dan tempat keluarnya zat yang tidak diperlukan
oleh tumbuhan. Intinya stomata adalah
pori/celah tempat keluar masuknya zat.
Secara kasat mata memang tidak akan tampak, tetapi akan sangat jelas
bila dilihat dengan bantuan mikroskop. Setelah
ini kalau mau coba perhatikan pori atau celah di daun boleh loh, siapa tahu ada
yang tampak kasat mata, bisa jadi ketika si daunnya lagi gak pakai fondation.
Hahahhaha. (pori wajah kali yesss...*kidding ya guys :p).
Mekanisme reduksi/pengurangan
polutan oleh lidah mertua adalah dengan cara penyerapan polutan tersebut dari
udara. Yaitu dengan masuk melalui celah
atau pori pada daun (stomata). Melalui
stomata inilah polutan masuk bersamaan dengan pengambilan karbondioksida (CO2)
untuk fotosintesis. Berbeda dengan CO2
yang digunakan untuk fotosintesis, polutan yang ikut serta masuk melalui
stomata ini, oleh lidah mertua akan direduksi secara kimiawi menjadi senyawa
yang tidak lagi berbahaya. Polutan yang
masuk melalui stomata akan diubah oleh zat aktif pregnane glikosid menjadi senyawa seperti asam organik, gula, dan
asam amino yang memberikan manfaat bagi tumbuhan itu sendiri maupun makhluk
hidup lain. Tidak semua tumbuhan
memiliki kemampuan mereduksi polutan.
Bahkan antar species lidah mertua sekalipun, memiliki kemampuan yang
berbeda dalam mereduksi polutan.
Misalnya antara Sansevieria
cylindrica dengan Sansevieria
trifasciata (sumber pict: wikipedia).
![]() |
| Sansevieria cylindrica |
![]() |
| Sansevieria trifasciata |
Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh bentuk, ukuran dan tekstur daun. Ukuran daun yang luas akan memiliki lebih
banyak stomata, sehingga polutan juga akan lebih banyak terserap. Daun yang tipis akan lebih mudah meyerap
polutan dari pada lidah mertua dengan daun lebih tebal. Karena polutan pada daun yang lebih tipis
akan lebih mudah menembus ke bagian dalam jaringan daun.
Masih ada beberapa cara lain tumbuhan dalam mereduksi
polutan. Misalnya melalui organ akar
tumbuhan (Rizofiltrasi), di mana
akar tumbuhan akan menyerap polutan seperti logam berat atau limbah buangan
dari tanah yang tercemar, polutan kemudian diakumulasi ke bagian batang dan
daun, kemudian tumbuhan dengan akumulasi polutan ini dikelola secara khusus. Fitostabilisasi,
yaitu tumbuhan mampu menghaslkan senyawa kimia tertentu, dimana dapat membuat
polutan menjadi tidak aktif di area yang tercemar. Fitodegradasi,
dengan bantuan enzim pemecah (degradasi) di dalam jaringan tumbuhan yang mampu mendegradasi
polutan. Fitovolatilisasi, Polutan yang terserap oleh tumbuhan akan
dilepaskan/ diuapkan ke udara melalui daun.
Sebelum diuapkan polutan mengalami reaksi kimiawi di dalam jaringan
tumbuhan, sehingga zat yang diuapkan bukanlah zat yang membayahakan lagi.
Demikian sekelumit informasi mengenai hubungan Sansivieria
dengan polusi udara. Tanaman lidah
mertua cenderung tumbuh di tempat yang kering, tidak terlalu banyak air, dan
dapat ditempatkan di tempat yang kurang cahaya maupun banyak cahaya. Over
watering atau air yang berlebihan justru penyebab tanaman lidah mertua
menjadi mati. Pemeliharaan dan
perbanyakan yang mudah, membuat semangat para hobiis tanaman untuk memilikinya.
Semoga bermanfaat.
PUSTAKA
- Megia, R., Ratnasari, Hadisunarno. 2015. Karakteristik Morfologi dan Anatomi, serta Kandungan Klorofil Lima Kultivar Tanaman Penyerap Polusi Udara Sansevieria trifasciata. 1(2): 34--40
- Nur, F. 2013. Fitoremediasi Logam Berat Kadmium (Cd). 1(1): 74--83


Tidak ada komentar:
Posting Komentar