Rabu, 22 Juli 2020

TEMUKAN JODOHMU DISINI


Dengan menyebut Nama NYA yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.  Semoga KasihNYA dan SayangNYA senantiasa membersamai saya, keluarga dan untuk kita semua.
Aahhh... beribu syukur tak henti, saya utarakan kepada Tuhan saya Allah Subhanahu WaTa'ala.
banyak sayangNya tercurah kepada saya, hingga saya malu dibuatnya.  Malu, karena DIA selalu baik, tapi saya masih belum banyak baik dan selalu sibuk usaha memperbaiki diri.

Sudah lama ingin menulis kisah saya ini, namun banyak hal yang membuat tulisan ini menjadi tertunda.  Kali ini Allah memberikan kesempatan untuk membuat yang tertunda menjadi nyata.  Beberapa orang sudah mendengarkan saya bercerita kisah ini.  Beberapa teman sekolah, teman kerja, tetangga, bahkan teman online.  Respon mereka selalu menanyakan kelanjutannya tatkala saya menceritakan sepenggalnya.  Entahlah, apa yang membuatnya ingin tahu kelanjutannya.  Apakah dari kisahnya, atau ketertarikan gaya bercerita saya 😁.

Alhamdulillah, Happy Anniversary to my Half.
Tidak mudah menjalani hingga 11 tahun pernikahan.  Tapi insyaallah dengan bekal takwa kepada Allah, semoga langkah kita menjadi sakinnah mawaddah dan warrohmah menjadi lebih mudah.  Apalah kami ini, sejak bertambah tahun usia pernikahan kami, tak pernah kami merayakan bahkan mengingat di tanggal berapa kami menikah.  Berawal dari banyak postingan hari ulang tahun Pak Jokowi (Bapak Presiden saat ini), mengingatkan hari ulang tahun pernikahan kami.  Ternyata jatuh di tanggal yang sama.  21 Juni.  Saat itu, momen 11 tahun kami yang jatuh pada hari Minggu di tahun 2020 mengiringi kami untuk mengingat momen lampau, peristiwa demi peristiwa yang sesaat memunculkan pertanyaan sekaligus tawa geli kami.  Pertanyaan yang paling sering muncul adalah, "loh kok bisa ya?". 
Yang terkadang kami jawab sendiri, dengan jawaban "itulah takdir".  

Adalah kisah, dimana kisah yang menurut sebagian teman-teman saya tidak buruk dan relatif unik.  Hingga seorang teman memberikan buah pikirnya untuk menuangkan dalam tulisan.  Hai teman, terimakasih teman.
Entah, bagi saya harus memulai dari mana kisah ini, dan entah harus saya beri judul apa kisah ini.  Tapi yang pasti, fokus saya pada kisah ini adalah tentang awal jumpa kami hingga takdir bahwa kami berjodoh.  Niat saya membuat tulisan ini tidaklah banyak, selain berbagi juga sekaligus mengenang kisah kami, melatih daya ingat, semoga memberikan inspirasi dan manfaat baik.

Saya penganut paham, bahwa jodoh adalah misteri.  Semakin kuat dan bertambah iman saya ini.  Karena dalam ajaran agama yang saya anut, jodoh adalah salah satu takdir selain kelahiran dan kematian.  Berawal dari tidak mengetahui siapa satu sama lain, hingga satu  atap dengan status suami isteri selama 11 tahun ini.

17 tahun lalu, Saya diberi kesempatan untuk bisa menggali ilmu di perguruan tinggi negeri yang menjadi sekolah tujuan banyak orang saat itu.  Ya, Universitas Indonesia.  Betapa baiknya Tuhan saya, doa saya untuk menjadi civitas akademika di dalamnya di tahun itu dikabulkannya.  Tidak tanggung-tanggung, DIA kabulkan juga doa saya, agar saya bisa menimba di sumur ilmu yang saya gemari dan menjadi pilihan saya.  Ya, ilmu Biologi.  Bukan alih alih pelarian karena tidak diterima di ilmu kedokteran atau teknik atau sejenisnya, tetapi memang dambaan saya untuk  dapat lebih banyak ilmu Biologi di dalam nya.  Mengejar harapan dan cita-cita pun serasa dibukakan peluang oleh Sang Maha Baik.  Niat tulus menjadi seorang pengajar ilmu Biologi semakin termotivasi.  Bermodal 2 tokoh guru Biologi ketika di SMA yang menjadi role model saya, merupakan semangat juang saya untuk meraih kesempatan belajar Biologi di perguruan tinggi negeri.  Baiklah, sampai di titik ini saya paham benar bahwa tokoh yang menjadi role model itu bisa menjadi acuan motivasi juga loh buat kita 😄 (baru sadar).

Tidak ada nilai  akademi yang tidak baik selama 3 tahun di ladang ilmu tersebut.  Niat lulus di tahun ke empat pun memuncak.  Tetapi apa daya, lagi-lagi takdir lah yang menentukan.  Entah mengapa cukup sulit menemukan rute untuk lulus, hingga harus saya terima takdir dimana saya dapat lulus ditahun kelima.  Lagi-lagi banyak cerita selama menikmati pendidikan di sana.  Termasuk cerita jodoh saya yang satu ini.  

Ditahun ketiga saya memutuskan untuk tinggal di tempat kost.  2005 adalah tahun ketiga bagi saya.  Banyak alasan yang memutuskan saya untuk menjadi anak kost.  Atas referensi dari beberapa teman kampus, maka saya memutuskan untuk kost di area di mana saya bisa menempuhnya dengan bis kampus (bikun/bis kuning namanya saat itu) bahkan bisa juga dengan berjalan kaki menuju kampus.  Ya, Travelya, nama rumah kost nya.  Satu alasan kuat yang membuat saya memilih rumah kost tersebut adalah karena memperoleh air minum gratis, walaupun pada akhirnya saya mengetahui bahwa air minum itu berasal dari air keran yang difilter dengan alat tertentu hingga menjadi air yang layak diminum.  (Merasa tertipu akutuu. Hahahha. tapi tidak masalah sih selama perut masih bersahabat).   

Kalau dari tampilan bangunan, Travelya merupakan rumah kost yang dibilang bagus dan bangunannya tampak modern dijamannya.  Masih dibilang bagus karena termasuk bangunan baru.  Kalau dari harga, relatif murah, karena masih baru jadi sepertinya mengandung unsur promosi.  Dari luar tampak gerbang besar, halaman besar yang bisa di pakai bermain bola basket, karena ada ring basket dihalaman itu.  Tampak 2 kamar besar menghadap ke halaman.  disebelah kanan gerbang terdapat aula cukup besar. Di antara 2 kamar besar yang menghadap ke halaman, ada satu pintu masuk ke dalam.  Masuk dari pintu tersebut, tampak beberapa meja dan kursi makan.  Ya, itu kantin untuk anak-anak kost Travelya.  Hal lain yang menyenangkan buat saya adalah meja makan kantin yang menghadap ke halaman terbuka berlantai keramik dengan beberapa pepohonan kecil di bagian tepinya.  Saya anggap itu adalah bonus untuk saya, selain air minum gratis tadi.   

Dari pintu masuk tadi, selain meja dan kursi makan, tampak etalase di sebelah kanan.  Etalase itu digunakan oleh Ibu penjaga kantin untuk menampilkan kreasi masakan rumahan yang sudah dibuatnya untuk dijual ke anak-anak kost.  Etalase tersebut bersebelahan dengan dapur sekaligus pintu masuk menuju kamar-kamar kost putera.  Sedangkan di sisi kiri dari pintu masuk, terdapat pintu menuju kamar-kamar kost puteri.  Masing-masing area putera maupun puteri terdapat 24 kamar kost, di mana penampakan setiap area baik putera maupun puteri, terdapat 12 kamar di lantai bawah dan 12 kamar di lantai atas.  Jadi total seluruh kamar kost adalah 48 kamar, ditambah 3 kamar besar yang berbatasan dengan halaman paling depan dekat dengan Gerbang.  

Ada 3 pilihan kamar yang bisa saya tempati saat itu.  P22, P23 dan P24 (adalah nomor kamarnya). Semua kamar tersebut terletak di lantai 2.   Keputusan saya dalam memilih ruang singgah akhirnya jatuh pada P22 yang memiliki jendela menghadap ke halaman kantin.  Halaman kantin itu terkadang menjadi lahan parkir motor anak-anak kost untuk keamanan yang lebih.  Kunci kamar kost di gantungi papan mika berwarna pink bertuliskan P22.  Sepertinya P itu artinya perempuan.  karena setelah beberapa waktu di rumah kost tersebut, saya akhirnya tahu bahwa untuk kamar kost laki-laki bertuliskan L.  Kemungkinan L berarti laki-laki dan papan mika gantungan kunci kamar laki-laki berwarna biru muda.  Demikian juga dengan tampilan cat dinding kamar kost puteri berwarna pink sedangkan dinding kamar kost putera berwarna biru muda.  Secara keseluruhan area kamar kost puteri dan area kamar kost putera terpisah oleh halaman dan kantin.  Meski demikian, penghuni puteri dilarang memasuki area kost putera dan sebaliknya.

Setelah satu tahun di Travelya, sangat terasa semua penghuni kost terutama penghuni puteri seperti keluarga sendiri.  Dua orang  penghuni kost puteri adalah teman kampus saya.  Ya, kita dijurusan studi yang sama, Biologi.  Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA).  Menurut saya, hal baik dari rumah kost ini adalah adanya beberapa kegiatan yang mempertemukan semua penghuni kost baik putera maupun puteri.  Seperti solat berjamaah di aula dan kajian kerohanian yang di buat oleh pemilik kost.  Rasa akrab makin terasa setelah lebih dari satu tahun menghuni, hingga saya tahu bahwa rumah kost ini memiliki cogan (bukan cowo ganteng ya, ahahhaha).  Cogan alias moto, alias semboyan dari rumah kost ini adalah one roof one septictank.
Cukup lucu bagi saya untuk semboyan itu,  artinya satu atap satu pembuangan tinja.  Entah siapa yang membuat dan entah siapa yang mengada-ada.

Ada suatu momen dimana saya ingin tau siapa saja penghuni kamar kost putera.  Karena dengan semboyan one roof one septictank tadi, tidak sah rasanya kalau saya tidak kenal semua penghuni kost.  Sambil menghabiskan waktu setelah makan malam di kantin, saya ditemani oleh salah satu penghuni kost putera yang sudah saya kenal lebih dulu, membantu memperkenalkan ke saya, bahwa kamar L sekian ditempati oleh si A, si B, si C, dan begitu seterusnya, sambil menunjukkan wajah-wajahnya sekaligus membantu memperkenalkannya ke saya.  Orang-orang yang ditunjukkan wajahnya dan diperkenalkan ke saya adalah penghuni kost putera yang secara kebetulan lalu lalang dari dan menuju kamar kost.  

Tidak ingat urutan setiap part nya dalam kisah saya kali ini, tetapi entah kenapa yang ini terasa berkesan dan spesial.  Ya, saat teman saya memperkenalkan orang yang kini tepat 11 tahun seatap  dengan saya.    Enggan rasanya saya meyebutkan nama teman saya ini, sebetulnya agar orang terkait ketika membaca cerita ini bisa merasakan dan berkata dalam hati nya, "hmmm ini kayaknya gw deh".  Begitulah kiranya. Hahahha.
Maaf, bila terlalu banyak kata "Hahahha" atau emoticon tertawa, karena menulis ini tidak hanya cukup mengingat masa lampau, tapi penuh tawa geli di diri sendiri.  Orang yang menjadi suami saya kini adalah Haikal, si baik hati, yang pemalu, lemah lembut dan jarang berkasar.  Yah..walaupun terkadang menyebalkan, tapi saya paham bahwa hidup tidaklah semulus jalan tol beraspal dan yap, no body is perfect.  Karena yang sempurna hanya Tuhan saya semata.  Jadi bila kita sudah dekat dengan seseorang lantas satu sama lain tidak pernah merasa menyebalkan, menurut saya itu adalah sesuatu yang aneh.  

Ceu, Ceuceu, Mba Ceuceu, Ceuceu Maruceu, Ceuceu maruceu oi oi, dan Ceuzky Travelsky.  Itu semua adalah panggilan beberapa penghuni kost kepada Saya.  Entahlah mengapa mereka memanggil saya dengan sebutan itu.  Kalau saya menerka sendiri, adalah karena saya terbiasa dengan logat dan bahasa Sunda.  Kenapa tidak saya berbicara dengan bahasa Sunda, kalau saya bisa dan ada beberapa orang di rumah kost tersebut yang juga bisa berbahasa Sunda, seperti Ibu yang memasak dan menjaga kantin, 2 Akang yang membersihkan area kamar kost, bahkan pemilik utama rumah kost tersebut ternyata bersuku Sunda.  Asli asal Tasikmalaya.  Tasikmalaya adalah tempat kelahiran dan dibesarkannya Mamah saya.  Saya bisa berbahasa Sunda karena terbiasa.  Sejak saya kecil, bahasa Sunda banyak mengelilingi keluarga dan tetangga saat berkomunikasi.  Tidak berniat racism, hanya turut melestarikan budaya, dan menanam rasa bahwa betapa asiknya berbahasa daerah.  


Kebetulan Haikal melintas di hadapan kami (saya dan teman kost laki-laki yang sudah saya kenal).  Haikal penghuni kamar L23 dengan tas selempang, sneaker putih, kaos polo, celana bahan berwarna hitam, sembari membawa bungkusan plastik kresek bening berisi steroafoam, yang kalau menurut saya itu adalah makanan.  Rambut ikal nya yang agak berantakan cukup menarik perhatian.


Teman kost     : "Nah.. Ceu... ini nih, ini namanya Haikal".
 
Saya                : "Hai, Haikal. Aku Lisda". 
 
Haikal             : "Hai.... ". (sambil cengar-cengir manis dan mata yang sesekali berkedip).
 
Teman Kost    :  "Kal, Elo baru balik? sini-sini duduk dulu sama kita".
 

Sekali lagi teman saya ini menjelaskan ke saya,

 
Teman Kost    : "Iya Ceu, ini namanya Haikal, kuliah nya di FE (Fakultas Ekonomi). Eh kal lo                                  baru balik jam segini?".
 
Haikal            : "Iya, soalnya tadi ada presentasi di FE".
 
Teman Kost   : "Eh tunggu deh, ini apa sih di rambut lo kal?" (sambil menyentuh rambutnya yang kriwil, ikal dan berantakan).
 
Haikal            : (Sambil menutupi yang ditunjuk), "Oh ini jepit rambut".
 
Teman Kost   : "Lah kal, Elo pakai jepitan?" (berbinar, heran dan menahan tawa).
 
Saya               : (Diam, dan masih menyimak mereka).
 
Haikal            : "Iya, tadi tuh karena ada presentasi, biar gak berantakan rambutnya, jadi gw  jepit deh".

Kita semua tertawa, dan teman saya melanjutkan pembicaraan. 

Teman Kost   :  "Eh Ceu, Dia tuh kuliah juga di MIPA, Fisika ya kal?"
 
Haikal            : "Iya, Fisika".
 
Saya               : "Berarti kita satu kampus dong, tapi kok gw gak pernah ketemu ya?".
 
Haikal            : (cuma senyum manis).
 
Teman Kost   : "Tuh Ceu, dia bawa makanan nih Ceu, liat tuh ceu". (Sambil menunjukan bungkusan yang dibawa Haikal). 
 
Haikal            : "Oh ini Capcay" (Senyum sambil menunjukan apa yang dibawanya).
 
Teman Kost   : "Ni Pasti buat lo Sahur ya Kal?, tuh Ceu, dia nih rajin puasa Senin Kamis nya, trus rajin ngaji juga, kalau Sabtu atau minggu dia gak pulang ke rumah Ceu, tapi ngaji".   
 
Saya               : "Ooh..."(angguk-angguk dan masih biasa saja)
 
Haikal            : "Eh, gw masuk dulu ya".
       
Saya dan teman saya pun say goodnight kepada Haikal.


Begitu kira-kira secuil percakapan yang saya ingat untuk  pertama kali kenal dengan Haikal.  Saat itu senang rasanya memiliki kenalan baru, teman baru.  Tentang rasa ke Haikal saat itu, tidak ada yang istimewa.  Tidak sama sekali.

Sama sekali lupa runut ceritanya, hanya momen penting yang saya ingat yang membuat saya terpesona karena personalitinya.


1.  Berkumpul, Sharing cita-cita

Sesekali di Travelya, jika ada waktu senggang beberapa penghuni kost berkumpul.  Senang rasanya bila berkumpul ramai.  Lelah, penat dan bosan belajar sesekali hilang karena terhibur sesaat setelah berkumpul, bercanda tawa bersama teman-teman kost.  Pada suatu kesempatan setelah makan malam, dengan pakaian santai rumahan, juga sarungan, entah bagaimana dikondisikan (saya lupa), tetiba kita berkumpul di kantin.  Berkumpul sekitar 15 orang penghuni kost, termasuk saya dan Haikal.  Pembicaraan apa yang mengawali, saya pun lupa, hingga topik pembicaraan adalah tentang cita-cita.  Semua orang bergiliran menuturkan cita-citanya, termasuk saya.  Dari sekian cerita tentang cita-cita, hanya cerita Haikal yang saya suka.  Cerita yang tidak biasa di orang-orang seusianya (itu menurut saya).  Dia bercerita tentang mimpinya yang mendapatkan nobel ekonomi.  Memang Dia tidak sedang menuturkan cita-citanya, Ia hanya bercerita mimpi dalam tidurnya beberapa waktu lalu.  Menarik, itu kesan saya terhadapnya. 


2.  Cokelat Tobleron

Di kesempatan berkumpul penghuni kost selanjutnya, tetiba Haikal yang baik datang membagikan cokelat Tobleron ke semua orang-orang yang ada di kantin saat itu.  Termasuk membagikannya ke saya.  Entah dalam rangka apa membagikannya, tidaklah penting untuk saya.  Saya memang bukan penggemar cokelat batangan yang demikian.  Jadi kalaupun saya terima, pasti saya akan berikan itu ke orang lain.  Saya tau, kalau Tobleron itu ada jenis lain yang berwarna putih.  Orang-orang bilang itu  cokelat putih, nah jenis itu yang saya suka.  Saya menolak pemberian Haikal saat itu, tetapi mengganti penolakan dengan permintaan Tobleron putih, itu pun jika ada.  Jika tidak, ya tidak masalah bagi saya.  Dengan baik hati, Haikal mengatakan bahwa lain waktu dia akan membawakan Tobleron putih untuk saya.  Saya tidak menanggapi pernyataan itu dengan seksama.  Menurut saya, pernyataannya adalah hal yang tidak wajib digarisbawahi.  
Selang beberapa minggu kemudian, kami bertemu tak terduga.  Dia masih dengan pakaian rapi nya , tampak seperti baru saja pulang dari kampus.  Mengejutkan, karena dia mengatakan kalau dia membawakan Tobleron putih untuk saya.  Kami termasuk penghuni kost yang jarang bertemu, dan bila bertemu pun hanya sekedar mengatakan "Hai", dan tidak bisa dipastikan kapan kami akan bertemu.  
Dari bagian kisah ini, Saya mulai paham, hal kecil yang istimewa bagi wanita ya adalah hal semacam ini.  Hahahahha.
Berbunga hati ini di saat itu.  Bagaimana perasaan saya di momen itu masih terasa hingga kini.  Seperti bertemu oase di tengah dahaga.  bagai bertemu sekuntum mawar di ladang kaktus.  Rejeki yang datang dari pintu yang tidak diduga.  Pernyataannya tentang Tobleron, karena sudah terlalu lama, saya sudah tidak mengingatnya dan saya kira dia pun lupa.  Sejak saat itu saya menyimpulkan, kalau apa yang dia janjikan akan dia penuhi.  Menurut saya, itu adalah sifat yang istimewa, dan saya suka.  Ketertarikan saya mulai nampak, namun rasa ingin tahu jauh tentang nya belumlah hadir.  


3.  Berbasket ria

Pada kesempatan selanjutnya, entah takdir mana lagi yang membuat saya akhirnya melihat penghuni kost bermain basket di sore hari.  Sore itu saya memang sengaja ke halaman paling depan dekat gerbang kost dan duduk di kursi rotan untuk sekedar mengobati bosan di dalam kamar kost.  Beberapa anak lelaki penghuni kost bermain basket, Haikal di antaranya.  Terpesona, adalah kata yang menurut saya tepat untuk saat itu.   Saat dia melakukan three-point field goal .  Shoot jarak jauh dan bola masuk ke dalam keranjang dengan 3 poin.  Begitu kira-kira dalam pertandingan basket.  Saat itu, bukan permainan Basket yang serius memang, karena dilakukan hanya 3 sampai 5 orang dan terkesan hanya bakar kalori saja dengan bola Basket.  Hanya saja, selain menganga bibir ini melihatnya, lagi-lagi saya rasakan bahagia.  Hadir ketertarikan saya karena kemahirannya yang mampu menciptakan shoot jarak jauh.  Uwow.


4.  Sepi itu Indah


Bagi saya, kalimat "sepi itu indah" adalah ajian mantra jitu Haikal yang membuat saya melayang hingga  akhirnya saya mengidolakannya.  "Wingardium Leviosa", seperti yang diucapkan Harry Potter.  Setelah kata-kata itu diucapkan olehnya, saya tersihir semakin ingin tahu lebih jauh tentangnya.  Aneh? , Ya memang aneh.  Pada suatu kesempatan, saya pernah bertanya kepadanya.
 

Saya        : "Kita kan satu fakultas, tapi kok gw gak pernah lihat elo ya kal?, kayak di kantin MIPA, atau di perpus MIPA gitu?"
 
Haikal         :  "Iya, habisnya kalau pas jam makan, kantin tuh selalu rame". 
 
Saya        : "Yah, namanya juga kantin, rame lah..., lha jadi lo kalau makan di mana? bukan dikantin? di  kelas ya bawa bekel?"
 
Haikal         : "Ya makannya di kantin juga sih, tapi nunggu sepi".
 
Saya            : "Dih, kok gitu. Mang lebih enak ya kalau sepi? sendiri gitu makannya?"
 
Haikal         : "Iya, karena sepi itu indah".
 
Saya            : (Melongo, tapi bara ingin tahu lebih tentang nya semakin menjadi).
                   
Pikiran dan hati saya seolah berdiskusi dan menjalin kerja sama padu lantas menyimpulkan.  Wah, aneh, asli aneh banget ini orang.  Tapi kok ya seru, dan semakin menantang saya untuk ingin tahu lebih jauh tentangnya.

Dan saya pun melanjutkan percakapan tadi


Saya      : "Yaudah, lo kalo butuh gw temenin dikantin, bilang aja ke gw, ntar lo gw temenin                                      makan deh".

Haikal   : "Iya, OK!".


Jika ingatan saya benar, setelah percakapan ini kami bertukar nomor telepon.  Handphone Nokia di zaman ini, bukan smartphone touch screen yang bisa bertanya dengan speak langsung ke Google.  Saya Nokia tipe 3200 , Haikal Nokia Engage (yang mirip gamewatch dan kalau menelepon digunakananya miring. Huayo coba deh googling).


Flashback: Nokia N-Gage - the gaming phone ahead of its time ...Nokia 3200 Full phone specifications :: Manual-User-Guide.com

(Hasil penelusuran/googling)


5. Penasaran

Dari beberapa kesempatan kecil berkomunikasi dengan Haikal langsung, membuat saya semakin ingin tau lebih jauh tentangnya.  Intisarinya adalah saya penasaran dan tertantang ingin memipil tuntas tentang Haikal.  Terkadang pikiran saya penuh pertanyaan  tentang nya.  Apakah dia tidak memiliki teman di kampus?  atau tidakkah dia memiliki semacam teman dekat?, sampai makan di kantin pun seorang diri.  Ataukah bila dia berbelanja cokelat selalu banyak? ataukah dia sering berlatih basket? Apakah yang dia alami? hingga bisa dianugerahi mimpi mendapatkan Nobel ekonomi?.  Bagi saya, hanya orang tidak biasa yang khayalnya hingga demikian, yah walau sebatas mimpi.  Cukup istimewa bagi saya, tanpa sadar saya jadi memikirkan tentangnya.  Secuil sekali saya bisa mendengarkan informasi tentangnya dari seorang teman dekatnya yang juga tinggal di Travelya.  Tapi hingga di momen ini, saya menjadikan Haikal sebagai Idola.  Haikal My Idol, itulah sebutan saya untuknya.  Anda merasa aneh? Ya, saya pun demikian.     


6.  Friendster

Friendster, sosial media yang cukup mencuat di tahun 2006, selain chat Yahoo Messenger.  Saya memang senang menulis, apalagi tentang pengalaman-pengalaman yang pernah saya alami.  Lebih seperti gemar menulis diari memang.  Saya paham diri saya, seorang extrovert dan seorang yang tidak bisa mengubur perasaan.  Kesukaan atau ketidaksukaan saya, bila berkesempatan, saya selalu menuangkannya dalam bentuk tulisan atau bicara langsung kepada orang yang bersangkutan.  Puas rasanya bila perasaan terpendam ini meletup menjadi lava hingga lahar dingin dan berubah menjadi bongkahan batu indah yang menghiasi sungai.  Tentang Haikal, perasaan penasaran terhadapnya, rasa senang karena Tobleron darinya, terkesima dengan kalimat "sepi itu indah", terpesona dengan  three-point field goal-nya, seluruhnya saya tuangkan di blog friendster saya.  Tidak ingat bagaimana isi tulisannya dan sayangnya tahun 2020 ini friendster sudah punah, jadi saya tidak bisa kulik kembali tulisan kuno saya.  Selang 1 minggu setelah saya publish tulisan saya, akhirnya sang idolapun tahu isi tulisan saya tersebut, itupun karena informasi dari seorang teman dekatnya, yang juga kenal dengan saya.  Sedikitpun saya tidak merasa malu ataupun takut, ketika tulisan saya sudah diketahui olehnya, karena tulisan saya memang tidak saya sembunyikan, namun tidak pula secara khusus untuk dirinya saya tujukan.    


7.  Katakan Rindu

Saya yang selalu berpikir pendek ketika berucap, gelisah bila ada rasa yang tak terbuka, dan tak kenal malu untuk nyatakan rasa.  Tak sungkan saya selalu katakan rindu padanya kala bertemu.  Jarang sekali kami bertemu.  Bertemu biasa dalam hitungan minggu.  Jadi bila bertemu dengannya, riang hatipun terasa, hingga tak sungkan katakan rindu sambil lalu.

(Ketika bertemu dan melintas sambil lalu)

Saya        : "Hai Haikal..."

Haikal     : "Hai...."

Saya        : "Ih kemana aja sih? kok baru keliatan. Gw kan kangen tauuuu..."

Haikal     : (Senyum santai)

Saya        : "Dah!!!! sampai ketemu lagi... " (berjalan sambil lalu).

Haikal     : "Bye...!!!"

Tidak pernah menanti apalagi berencana bertemu.  Hanya rasa senang bila bertemu, dan tiap kali bertemu tak ragu katakan rindu.  Hanya sedikit berharap dalam hati, semoga Tuhan mengizinkan saya menjadi sahabatnya. 


8.  Nyatakan suka

Layaknya anak kuliahan, ada masa di mana mulai sibuk untuk menuntaskan tugas akhir.  Penelitian, membuat saya bolak balik laboratorium BPPT Serpong - kampus UI Depok.  Adalah seorang teman di laboratorium yang juga melakukan penelitian, asal Universitas Padjajaran Bandung.  Saat itu, dia menawarkan niaganya kepada saya berupa pin bulat (dengan peniti) bergambar yang bisa dipesan kepadanya.  Setelah melihat beberapa gambar (gambar anime saat itu) yang ditunjukkan olehnya, saya tertarik untuk memesan pin dengan gambar animasi Kenshin & Kaori.  Saya memang suka sejak kartun itu tayang di tahun 1997-1998 silam.  Suka dengan cerita dan karakternya (Batosai si Pembantai).  Seiring berjalannya waktu, ternyata hal yang tidak diduga Haikalpun menyukai film animasi tersebut.  Hingga saya berniat memberikan pin itu padanya.  Karena ada potongan harga untuk 2 buah pin, saya memesan 1 pin lagi dengan foto saya dan Haikal disertai tulisan Haikal my Idol.  Foto yang saat itu tidak sengaja saya ambil di aula Travelya saat permainan tenis meja berlangsung.  Foto yang diambil dengan kamera VGA/CIF (as you know lah ya bagaimana hasil tangkapan gambarnya yang simple tapi masih punya rasa istimewa).

Satu minggu kemudian, 2 buah pin pesananpun jadi.  1 pin bergambar saya & Haikal bertuliskan Haikal my Idol, 1 pin lagi bergambar Kenshin & Kaori.  Sepulang dari laboratorium, saya berniat memberikan itu ke Haikal.  Semesta seperti mendukung, sepulang dari laboratorium menuju rumah kost, saya menjumpai pedagang poster di terminal bus.  Hampir semua poster Kenshin yang dijualnya.  Tanpa berpikir panjang, saya langsung membelinya dan berniat memberikan kepada Haikal bersama dengan pin yang sudah siap saya berikan.  

Saya memang begitu.  Saya akan merasa lebih senang, jika rasa simpatik saya dengan seseorang, saya ungkapkan juga melalui benda berupa cinderamata atau apapun yang bisa dikenang.  Terlebih jika diberikan di saat yang istimewa.  Seperti di hari kelahiran misalnya.  Entahlah, sepertinya itu sudah menjadi kebiasaan sejak saya di sekolah dasar.  Yah, walaupun masih minta dibelikan ke orang tua.  Sayangnya, saat itu saya belum tahu kapan hari kelahiran Haikal.  Tidak mesti menunggu hari lahirnya, niat saya untuk memberikan pin dan poster tetap saya catat di wishlist planner saya.

Kesempatan untuk memberikan pin dan poster akhirnya tiba.  Kesempatan istimewa yang tidak disengaja.  Berlokasi di kantin kost Travelya, sambil berdiri dan kira-kira inilah yang saya katakan kepada Haikal,

"Haikal, ini pin dan poster dari  gw buat lo.  Jangan beranggapan lebih atau apapun.  Anggap aja ini adalah souvenir atau kenang-kenangan dari fans lo, dan lo adalah artisnya.  Gw suka, senang, simpatik dan mengidolakan lo.  Semoga lo senang dengan pin dan poster ini ya.  Gw pun gak berharap macem-macem dengan ngasih ini ke lo.  Tapi gw akan amat bersyukur kalau lo mau menjadikan gw sebagai teman atau sahabat yang baik buat lo".  

Haikal pun membalas dengan ucapan terima kasih.

Apa yang dirasakan Haikal? Saya sungguh tidak tahu.  Bagaimana sikap dia selanjutnya terhadap saya? saya juga tidak pernah tahu, dan tidak mau tahu.  Sesuatu yang pasti adalah lega rasanya.  Yah, seperti memuntahkan magma panas dan mengeluarkannya menjadi lava yang mengalir menjadi lahar dingin. 
Gak tahu malu? Iya.  Berani? Iya juga.  Silakan Anda berpendapat.  


9.  Madu dan Susu

Tidak berharap lebih dari poster dan pin yang sudah saya berikan ke Haikal.  Tapi setelahnya, Haikal benar-benar menjadikan saya sebagai temannya.  Catat ya, T E M A N.  Bukan pacar 😄.  Saya bersyukur untuk itu.  Seiring berjalannya waktu, saya jadi lebih tau tentangnya.  "Baik", bukan hanya saja "katanya" dari orang-orang sekitar.  Ya, He is a kind man, tidak hanya baik dengan saya, tetapi juga kepada teman-teman sekitarnya dan sekitar saya.  Banyak hal-hal baik yang ia lakukan kepada orang-orang di sekitarnya.  Salah satu hal baik yang pernah ia lakukan dan yang paling saya ingat adalah ketika dia memberikan saya 1 liter susu UHT kemasan dan 1 botol madu, setelah dia mengetahui bahwa saya dalam kondisi tidak sehat.  Madu di tangan kanannya, dan susu ditangan kirinya.  Bukan madu dan racun ya😄.  Bentuk perhatian? bisa jadi.  Saya perlu gede rumongso alias ge-er? saya rasa tidak perlu, karena dia memang baik ke setiap orang di sekitarnya.  


Akan ada banyak cerita, bila saya gali lebih dalam memori ingatan saya, tetapi rasanya harus saya percepat kisahnya.  Alhamdulillah, tak terasa sudah 9 hal yang saya ingat.  Haikal 1 tahun lulus lebih dahulu dari pada saya.  Kami memang saling membantu dalam hal kelulusan.  Tanpa sadar, kami sering bersama sebagai teman baik.  Witing tresno jalaran soko kulino itu benar-benar terjadi rasanya.  Rupanya tidak bagi saya, tetapi bagi Haikal sepertinya.  Hingga Haikal mengungkapkan perasaan jujurnya kepada saya.  Dia menyatakan bahwa dia S A Y A N G.  Kepada siapa?, ya jelas saya dong 😆.  Sejauh yang saya kenal saat itu, memang dia bukan seseorang yang berani bicara mengungkapkan perasaan secara langsung kepada orang lain.  Dari memori ingatan saya yang tersimpan, saat itu dia mengungkapkan sayang nya melaui SMS.  Perasaan saya? senang, namun juga khawatir.  Saya membalas SMS nya dengan ucapan terima kasih dan perasaan bersyukur kepada Tuhan saya, alhamdulillah bila sampai saat ini masih ada orang lain yang menyayangi saya.  Itu jawaban saya kepadanya.  

Hingga di kemudian hari, dia pernah mengatakan secara langsung kepada saya, bahwa dirinya senang bila bersama saya, dan ingin terus bersama-sama dengan saya.  Saya terkejut, bahagia, dan lagi-lagi khawatir.  Namun dengan canda tawa saya katakan.  " Ya, kalau mau bareng terus-terusan ya nikah".  Saat itu saya nyatakan bahwa saya tidak ingin berpacaran.  Karena komitmen dalam diri saya, pacaran hanya buang waktu, menumpuk dosa,  dan mengikis rasa kebebasan dengan teman-teman karena tanpa ada tujuan akhir yang pasti.  "Kalau Ekal (sebutan akrab saya ke Haikal), mau nikah sama Lisda ya Ekal buruan aja lamar Lisda.  Gausah banyak ini itulah to the poin aja Lisda mah maunya".  Itu pernyataan tambahan saya ke dirinya.  

Tidak lama dari waktu kelulusan Haikal, Haikal diterima bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di sebuah badan Negara.  Kebersamaan kami sebagai teman baik yang terlihat, menjadi kesimpulan bagi orang-orang sekitar kami bahwa terdapat hubungan spesial di antara kami, padahal tidak sama sekali.  Adapun kebersamaan kami memunculkan  bahan pertanyaan bagi orang-orang sekitar kami.  Karena perbedaan jenis kelamin antara saya dengan Haikal, maka pertanyaan pasti yang mereka lontarkan adalah tentang hubungan kami.  Benar hanya teman kah? pacarkah? 😁.  Namun, hal yang membuat level kebahagiaan saya meningkat saat itu adalah ketika Haikal tidak malu dan dengan berani menjawab dengan pernyataan, "Iya mohon doa nya ya, semoga bisa segera halal hubungannya".  Lantas orang-orang yang bertanyapun turut meng-aminkan.  Mungkin doa-doa tulus yang teraminkan dari banyak orang merupakan dukungan yang akhirnya melangit.  Hingga Sang Penguasa langit dan bumi, Pemilik siang dan malam mengabulkan.  Didukung oleh saya yang akhirnya lulus, dan tak lama diterima bekerja di sebuah perusahaan swasta.  Keduanya adalah syarat dari orang tua untuk saya diizinkan menikah.  Haikal pun semakin mantab, memberanikan diri mengatakan bahwa minggu depan keluarganya akan datang menjumpai keluarga saya untuk sekedar berkenalan.

Kala itu fokus saya adalah sekedar perkenalan keluarga, tidak lebih.  Tapi entah mengapa jadi sebuah acara lamaran dan penentuan tanggal pernikahan.  Hasil dari pertemuan keluarga itu dinyatakan 3 bulan kemudian adalah tanggal tepat dan baik untuk kami menikah.  Dag dig dug, kenapa begitu cepat.  Namun, saya seperti lemah dan tidak bisa berbuat apapun atas kesepakatan yang terjadi antar dua keluarga.  Saya dan Haikal pun mengangguk.  Semua proses menjelang pernikahan dibantu keluarga, tak sedikitpun tenaga saya mengalir untuk membantu pernikahan.  Seperti robot, hanya menurut ketika diminta pas foto dan tanda tangan.  Bukan ingin menolak, tapi hanya merasa kenapa terjadi begitu cepat.  Sempat ragu, tapi Tuhan memberikan jawabNYA dengan semua proses yang terasa begitu cepat dan berjalan lancar.  Hingga hanya dengan kata-kata alias ijab qabul dilengkapi kata "sah" dari 2 saksi, di 21 Juni kami resmi suami isteri.  Ragam kertas di meja ijab qabul akhirnya kami tandatangani.

Udah nih, cuma bilang gitu doang (Saya terima bla..bla...) bisa jadi suami istri? resmi ? 😆.  Itulah bentuk gurauan kami setelah beberapa menit hubungan kami halal dan resmi.

Terima kasih untuk teman-teman yang saat itu turut meng-aminkan doa kami.  

Terima kasih kepada Anda yang sudah membaca kisah ini.  Tidak bosan kami memohon doa untuk kebaikan kami, juga agar kami semakin sakinnah, mawaddah dan warohmah.  Demikian pula dengan Anda, semoga Allah SWT membalas kebaikan Anda dan Allah senantiasa memberikan rahmatnya.  

 

  





Tidak ada komentar:

Posting Komentar