Dengan menyebut Nama NYA yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Semoga KasihNYA dan SayangNYA senantiasa membersamai saya, keluarga dan untuk kita semua.
Aahhh... beribu syukur tak henti, saya utarakan kepada Tuhan saya Allah Subhanahu WaTa'ala.
banyak sayangNya tercurah kepada saya, hingga saya malu dibuatnya. Malu, karena DIA selalu baik, tapi saya masih belum banyak baik dan selalu sibuk usaha memperbaiki diri.
Sudah lama ingin menulis kisah saya ini, namun banyak hal yang membuat tulisan ini menjadi tertunda. Kali ini Allah memberikan kesempatan untuk membuat yang tertunda menjadi nyata. Beberapa orang sudah mendengarkan saya bercerita kisah ini. Beberapa teman sekolah, teman kerja, tetangga, bahkan teman online. Respon mereka selalu menanyakan kelanjutannya tatkala saya menceritakan sepenggalnya. Entahlah, apa yang membuatnya ingin tahu kelanjutannya. Apakah dari kisahnya, atau ketertarikan gaya bercerita saya 😁.
Alhamdulillah, Happy Anniversary to my Half.
Tidak mudah menjalani hingga 11 tahun pernikahan. Tapi insyaallah dengan bekal takwa kepada Allah, semoga langkah kita menjadi sakinnah mawaddah dan warrohmah menjadi lebih mudah. Apalah kami ini, sejak bertambah tahun usia pernikahan kami, tak pernah kami merayakan bahkan mengingat di tanggal berapa kami menikah. Berawal dari banyak postingan hari ulang tahun Pak Jokowi (Bapak Presiden saat ini), mengingatkan hari ulang tahun pernikahan kami. Ternyata jatuh di tanggal yang sama. 21 Juni. Saat itu, momen 11 tahun kami yang jatuh pada hari Minggu di tahun 2020 mengiringi kami untuk mengingat momen lampau, peristiwa demi peristiwa yang sesaat memunculkan pertanyaan sekaligus tawa geli kami. Pertanyaan yang paling sering muncul adalah, "loh kok bisa ya?".
Yang terkadang kami jawab sendiri, dengan jawaban "itulah takdir".
Adalah kisah, dimana kisah yang menurut sebagian teman-teman saya tidak buruk dan relatif unik. Hingga seorang teman memberikan buah pikirnya untuk menuangkan dalam tulisan. Hai teman, terimakasih teman.
Entah, bagi saya harus memulai dari mana kisah ini, dan entah harus saya beri judul apa kisah ini. Tapi yang pasti, fokus saya pada kisah ini adalah tentang awal jumpa kami hingga takdir bahwa kami berjodoh. Niat saya membuat tulisan ini tidaklah banyak, selain berbagi juga sekaligus mengenang kisah kami, melatih daya ingat, semoga memberikan inspirasi dan manfaat baik.
Saya penganut paham, bahwa jodoh adalah misteri. Semakin kuat dan bertambah iman saya ini. Karena dalam ajaran agama yang saya anut, jodoh adalah salah satu takdir selain kelahiran dan kematian. Berawal dari tidak mengetahui siapa satu sama lain, hingga satu atap dengan status suami isteri selama 11 tahun ini.
17 tahun lalu, Saya diberi kesempatan untuk bisa menggali ilmu di perguruan tinggi negeri yang menjadi sekolah tujuan banyak orang saat itu. Ya, Universitas Indonesia. Betapa baiknya Tuhan saya, doa saya untuk menjadi civitas akademika di dalamnya di tahun itu dikabulkannya. Tidak tanggung-tanggung, DIA kabulkan juga doa saya, agar saya bisa menimba di sumur ilmu yang saya gemari dan menjadi pilihan saya. Ya, ilmu Biologi. Bukan alih alih pelarian karena tidak diterima di ilmu kedokteran atau teknik atau sejenisnya, tetapi memang dambaan saya untuk dapat lebih banyak ilmu Biologi di dalam nya. Mengejar harapan dan cita-cita pun serasa dibukakan peluang oleh Sang Maha Baik. Niat tulus menjadi seorang pengajar ilmu Biologi semakin termotivasi. Bermodal 2 tokoh guru Biologi ketika di SMA yang menjadi role model saya, merupakan semangat juang saya untuk meraih kesempatan belajar Biologi di perguruan tinggi negeri. Baiklah, sampai di titik ini saya paham benar bahwa tokoh yang menjadi role model itu bisa menjadi acuan motivasi juga loh buat kita 😄 (baru sadar).
Tidak ada nilai akademi yang tidak baik selama 3 tahun di ladang ilmu tersebut. Niat lulus di tahun ke empat pun memuncak. Tetapi apa daya, lagi-lagi takdir lah yang menentukan. Entah mengapa cukup sulit menemukan rute untuk lulus, hingga harus saya terima takdir dimana saya dapat lulus ditahun kelima. Lagi-lagi banyak cerita selama menikmati pendidikan di sana. Termasuk cerita jodoh saya yang satu ini.
Ditahun ketiga saya memutuskan untuk tinggal di tempat kost. 2005 adalah tahun ketiga bagi saya. Banyak alasan yang memutuskan saya untuk menjadi anak kost. Atas referensi dari beberapa teman kampus, maka saya memutuskan untuk kost di area di mana saya bisa menempuhnya dengan bis kampus (bikun/bis kuning namanya saat itu) bahkan bisa juga dengan berjalan kaki menuju kampus. Ya, Travelya, nama rumah kost nya. Satu alasan kuat yang membuat saya memilih rumah kost tersebut adalah karena memperoleh air minum gratis, walaupun pada akhirnya saya mengetahui bahwa air minum itu berasal dari air keran yang difilter dengan alat tertentu hingga menjadi air yang layak diminum. (Merasa tertipu akutuu. Hahahha. tapi tidak masalah sih selama perut masih bersahabat).
Kalau dari tampilan bangunan, Travelya merupakan rumah kost yang dibilang bagus dan bangunannya tampak modern dijamannya. Masih dibilang bagus karena termasuk bangunan baru. Kalau dari harga, relatif murah, karena masih baru jadi sepertinya mengandung unsur promosi. Dari luar tampak gerbang besar, halaman besar yang bisa di pakai bermain bola basket, karena ada ring basket dihalaman itu. Tampak 2 kamar besar menghadap ke halaman. disebelah kanan gerbang terdapat aula cukup besar. Di antara 2 kamar besar yang menghadap ke halaman, ada satu pintu masuk ke dalam. Masuk dari pintu tersebut, tampak beberapa meja dan kursi makan. Ya, itu kantin untuk anak-anak kost Travelya. Hal lain yang menyenangkan buat saya adalah meja makan kantin yang menghadap ke halaman terbuka berlantai keramik dengan beberapa pepohonan kecil di bagian tepinya. Saya anggap itu adalah bonus untuk saya, selain air minum gratis tadi.
Dari pintu masuk tadi, selain meja dan kursi makan, tampak etalase di sebelah kanan. Etalase itu digunakan oleh Ibu penjaga kantin untuk menampilkan kreasi masakan rumahan yang sudah dibuatnya untuk dijual ke anak-anak kost. Etalase tersebut bersebelahan dengan dapur sekaligus pintu masuk menuju kamar-kamar kost putera. Sedangkan di sisi kiri dari pintu masuk, terdapat pintu menuju kamar-kamar kost puteri. Masing-masing area putera maupun puteri terdapat 24 kamar kost, di mana penampakan setiap area baik putera maupun puteri, terdapat 12 kamar di lantai bawah dan 12 kamar di lantai atas. Jadi total seluruh kamar kost adalah 48 kamar, ditambah 3 kamar besar yang berbatasan dengan halaman paling depan dekat dengan Gerbang.
Ada 3 pilihan kamar yang bisa saya tempati saat itu. P22, P23 dan P24 (adalah nomor kamarnya). Semua kamar tersebut terletak di lantai 2. Keputusan saya dalam memilih ruang singgah akhirnya jatuh pada P22 yang memiliki jendela menghadap ke halaman kantin. Halaman kantin itu terkadang menjadi lahan parkir motor anak-anak kost untuk keamanan yang lebih. Kunci kamar kost di gantungi papan mika berwarna pink bertuliskan P22. Sepertinya P itu artinya perempuan. karena setelah beberapa waktu di rumah kost tersebut, saya akhirnya tahu bahwa untuk kamar kost laki-laki bertuliskan L. Kemungkinan L berarti laki-laki dan papan mika gantungan kunci kamar laki-laki berwarna biru muda. Demikian juga dengan tampilan cat dinding kamar kost puteri berwarna pink sedangkan dinding kamar kost putera berwarna biru muda. Secara keseluruhan area kamar kost puteri dan area kamar kost putera terpisah oleh halaman dan kantin. Meski demikian, penghuni puteri dilarang memasuki area kost putera dan sebaliknya.
Setelah satu tahun di Travelya, sangat terasa semua penghuni kost terutama penghuni puteri seperti keluarga sendiri. Dua orang penghuni kost puteri adalah teman kampus saya. Ya, kita dijurusan studi yang sama, Biologi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA). Menurut saya, hal baik dari rumah kost ini adalah adanya beberapa kegiatan yang mempertemukan semua penghuni kost baik putera maupun puteri. Seperti solat berjamaah di aula dan kajian kerohanian yang di buat oleh pemilik kost. Rasa akrab makin terasa setelah lebih dari satu tahun menghuni, hingga saya tahu bahwa rumah kost ini memiliki cogan (bukan cowo ganteng ya, ahahhaha). Cogan alias moto, alias semboyan dari rumah kost ini adalah one roof one septictank.
Cukup lucu bagi saya untuk semboyan itu, artinya satu atap satu pembuangan tinja. Entah siapa yang membuat dan entah siapa yang mengada-ada.
Ada suatu momen dimana saya ingin tau siapa saja penghuni kamar kost putera. Karena dengan semboyan one roof one septictank tadi, tidak sah rasanya kalau saya tidak kenal semua penghuni kost. Sambil menghabiskan waktu setelah makan malam di kantin, saya ditemani oleh salah satu penghuni kost putera yang sudah saya kenal lebih dulu, membantu memperkenalkan ke saya, bahwa kamar L sekian ditempati oleh si A, si B, si C, dan begitu seterusnya, sambil menunjukkan wajah-wajahnya sekaligus membantu memperkenalkannya ke saya. Orang-orang yang ditunjukkan wajahnya dan diperkenalkan ke saya adalah penghuni kost putera yang secara kebetulan lalu lalang dari dan menuju kamar kost.
Tidak ingat urutan setiap part nya dalam kisah saya kali ini, tetapi entah kenapa yang ini terasa berkesan dan spesial. Ya, saat teman saya memperkenalkan orang yang kini tepat 11 tahun seatap dengan saya. Enggan rasanya saya meyebutkan nama teman saya ini, sebetulnya agar orang terkait ketika membaca cerita ini bisa merasakan dan berkata dalam hati nya, "hmmm ini kayaknya gw deh". Begitulah kiranya. Hahahha.
Maaf, bila terlalu banyak kata "Hahahha" atau emoticon tertawa, karena menulis ini tidak hanya cukup mengingat masa lampau, tapi penuh tawa geli di diri sendiri. Orang yang menjadi suami saya kini adalah Haikal, si baik hati, yang pemalu, lemah lembut dan jarang berkasar. Yah..walaupun terkadang menyebalkan, tapi saya paham bahwa hidup tidaklah semulus jalan tol beraspal dan yap, no body is perfect. Karena yang sempurna hanya Tuhan saya semata. Jadi bila kita sudah dekat dengan seseorang lantas satu sama lain tidak pernah merasa menyebalkan, menurut saya itu adalah sesuatu yang aneh.
Ceu, Ceuceu, Mba Ceuceu, Ceuceu Maruceu, Ceuceu maruceu oi oi, dan Ceuzky Travelsky. Itu semua adalah panggilan beberapa penghuni kost kepada Saya. Entahlah mengapa mereka memanggil saya dengan sebutan itu. Kalau saya menerka sendiri, adalah karena saya terbiasa dengan logat dan bahasa Sunda. Kenapa tidak saya berbicara dengan bahasa Sunda, kalau saya bisa dan ada beberapa orang di rumah kost tersebut yang juga bisa berbahasa Sunda, seperti Ibu yang memasak dan menjaga kantin, 2 Akang yang membersihkan area kamar kost, bahkan pemilik utama rumah kost tersebut ternyata bersuku Sunda. Asli asal Tasikmalaya. Tasikmalaya adalah tempat kelahiran dan dibesarkannya Mamah saya. Saya bisa berbahasa Sunda karena terbiasa. Sejak saya kecil, bahasa Sunda banyak mengelilingi keluarga dan tetangga saat berkomunikasi. Tidak berniat racism, hanya turut melestarikan budaya, dan menanam rasa bahwa betapa asiknya berbahasa daerah.